Selasa, 16 Juni 2009

Tolak Undang Undang BHP


Mestinya, sebuah undang undang baru menghadirkan refleksi yang positif pada praksisnya. Apalagi undang undang tersebut berbicara tentang masalah pendidikan. Hal itu juga menjadi sebuah nilai tambah apabila undang undang tersebut berlaku secara universal bukan untuk kepentingan kelompok semata. Akan tetapi, kita juga harus menyadari bahwa undang undang bukanlah salah satu faktor penggerak dalam mencapai tujuan ataupun menyelesaikan masalah tersebut. Masih ada Buku pedoman, pengelolaaan universitas, administrasi, biaya, dosen, peranan orang tua, mahasiswa itu sendiri, dan bahkan fasilitas-fasilitas pendukung yang akan menunjang kegiatan belajar mengajar di kampus tersebut.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa selalu terjadi sebuah kesenjangan antara undang undang yang di rencanakan atau di idealkan dalam pelaksanaanya di lapangan. Indonesia baru-baru ini mengeluarkan sebuah undang undang BHP, atau lebih tepatnya undang undang yang akan mengubah sebuah universitas negeri menjadi sebuah universitas yang bersifat swasta. Kecenderungan undang undang ini lebih mengutamakan pencarian sebuah dana ataupun biaya secara sendiri tanpa meminta dana dari pihak pemerintah. Hal ini di laksanakan agar pihak universitas lebih cenderung mandiri tanpa meminta bantuan sepeser pun pada pemerintah.
Penerapan undang undang ini mengundang berbagai macam pertanyaan, ada sekelompok orang yang setuju dengan undang undang ini dengan alasan agar pihak universitas lebih mandiri, ada pula yang tidak setuju dengan undang undang ini dengan dalih pendapatan universitas akan di alihkan dalam kenaikan uang kuliah atau uang semester. Efektifitas dari undang undang ini lebih cenderung kea rah dana yang akan di gunakan. Sehingga banyak yang perlu di benahi, baik itu untuk pengeluaran berupa biaya pembangunan fasilitas, penambahan gaji para dosen maupun biaya administrasi lainnya.
Nah, apabila itu terjadi, pihak universitas dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bukan hanya dapat menguras kantong mahasiswa dan orang tuanya serta dapat menguras otak mahasiswa tersebut. Konsekuensi terburuknya adalah uang kuliah/semester tersebut yang di keluarkan oleh mahasiswa itu sendiri tidak sebanding dengan hasil yang ia nikmati. Akhirnya masalah tersebut selalu berkutat dalam hal itu. Tentunya sebagian orang masih berpikir, walaupun uang biaya kuliah besar dan hasil yang di dapatkan itu tidak sebanding, kita harus meraih cita-cita. Memang pemikiran tersebut sangat baik, namun yang menjadi pertanyaan sampai berapa lama hal ini akan terjadi? Jika hal tersebut terjadi begitu lama, artinya kita sebagai seorang mahasiswa telah di peralat oleh pihak tersebut.
Oleh karena itu, saya mengajak anda semua yang membaca artikel ini untuk tidak setuju dengan undang undang yang dapat membuat calon-calon penerus bangsa ini menguras otak untuk membiayai kuliahnya sehingga tidak fokus dalam mengejar cita-cita.

Kebudayaan buruk yang terjadi antara Orang tua dan Anak


Membentak anak (oleh orang tua) dan dibentak oleh anak (terhadap orang tua)

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita mengetahui bagaimana cara sepasang orang tua dalam mendidik anaknya, salah satunya tentang ketegasan orang tua dalam hal mendidiknya. Sebagian orang tua mengimplementasikan sifat tegas dan disiplinnya dalam suara yang keras, ini terlihat pada menyuruh si anak dengan suara keras (membentak) dan dalam peristiwa lain ada sebuah keluarga dengan orang tua yang tidak dapat menyalurkan pribadi tegas dan disiplinnya terhadap anaknya sehingga anak tersebut dapat membentak si orang tua karena hal-hal tertentu. Tentunya kita ketahui bahwa keadaan dalam posisi membentak anak dapat membuat si anak merasa tertekan sehingga si anak akan tumbuh menjadi seorang anak dengan sifat temperament, tertutup, dan minder. Sedangkan pada posisi si orang tua yang di bentak oleh si anak akan membuat sebuah keadaan yang membuat si orang tua merasa tertekan dan ini dapat menjurus kepada kepribadian anak yang manja. Oleh karena itu, para orang tua di tuntut untuk menjadi bijaksana dalam menyikapi hal ini.

Salah dalam menyikapi kesalahan si anak

Seringkali orang tua baru bertindak ketika kesalahan telah dilakukan oleh anak. Bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. Tetapi si orang tua lebih bersikap menyalahkan si anak sehingga si anak merasa bosan dengan keadaan yang selalu di kambinghitamkan. Sikap orang tua tersebut seperti polisi menghadapi penjahat. Sebaliknya, orang tua sering lupa untuk memberikan perhatian positif ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan susu dan makanannya, serta memberesi mainannya. Padahal seharusnya, antara perhatian positif dengan perhatian negatif harus seimbang.

PENGARUH TERHADAP ANAK

Anak-anak yang sering diberi perhatian negatif, apalagi dengan teguran keras atau bentakan, akan mudah tertekan jiwanya. Kemungkinan ia bisa berkembang menjadi anak yang:

- Minder

Bila anak selalu dicela dan dibentak, dan bahkan si orang tua tidak memberikan sebuah hal yang bersifat mendukung ketika ia melakukan kebaikan, maka ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri atau minder. Timbul sebuah sifat dalam jiwanya bahwa ia hanyalah anak yang selalu melakukan kesalahan, tidak pernah bisa berbuat kebaikan atau menyenangkan orang lain. Hal ini mengakibatkan si anak merasa tidak berguna di mata orang tuanya. Misalnya, ia jadi tidak pede untuk mengaji atau membaca Al-Quran, gara-gara orang tuanya selalu membentaknya bila mendengar bacaannya salah.
-Cuek/ tidak peduli

Sifat cuek/ tidak peduli berkembang setelah sifat minder tersebut sehingga ia hanya peduli terhadap dirinya sendiri. Alasannya karena sudah terlalu sering menerima bentakan, ia malah jadi apatis, tidak peduli. Ia pun sering mengabaikan nasihat orang tuanya.

- Tertutup

Ya, anak menjadi takut pada orang tuanya sendiri ketika si orang tua dengan kemarahan yang sangat tinggi membentak si anak sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Ia tak pernah mau berbagi cerita dengan orang tuanya. Buat apa peduli toh kalau nanti aku juga yang disalahkan? Sehingga komunikasi yang terjadi antara si anak dan orang tua akan terputus.

- Pemberontak/ penentang

Tidak peduli dan tertutup mengakibatkan si anak tidak mau care terhadap kondisi lingkungannya, bukan hanya lingkungan tempat tinggal melainkan lingkungan keluarga. Si anak akan melawan orang tuanya karena di selalu di bentak oleh orang tuanya.

- Pemarah, temperamental dan suka membentak

Perlu kita ketahui bahwa masa kanak-kanak adalah masa pembentukan kepribadian si anak. Si anak akan mencontoh orang tuanya karena menurutnya orang tua nya selalu benar karena dia selalu disalahkan dan dibentak oleh orang tuanya. Apabila sikap orang tuanya pemarah, temperament, dan suka membentak, maka si anak akan mengikuti sifat orang tuanya itu.

BAGAIMANA MENUMBUHKAN KEPATUHAN?

Setelah jelas bila bentakan tidak efektif untuk menumbuhkan kepatuhan, bahkan berpengaruh negatif bagi kepribadian anak, lalu bagaimanakah cara yang baik untuk menumbuhkan kepatuhan

- Beri penjelasan pada anak
Penjelasan terhadap anak sangat di perlukan oleh setiap orang tua karena dengan adanya penjelasan yang di berikan oleh orang tua terhadap si anak akan membuat sebuah komunikasi yang baik, namun orang tua juga di tuntut untuk tidak terlalu lembut dalam hal ini karena jika terlalu lembek, si anak akan menganggap itu semua hanya angin lalu saja.

- Perintahkan sebatas kemampuannya

Orang tua juga harus mengetahui kemampuan si anak sehingga orang tua dapat memberikan sebuah amanah yang mampu di kerjakan si anak, disini orang tua juga berperan sebagai supporter untuk si anak.

- Tidak berdusta atau menakut-nakuti

Terkadang apa yang di katakan oleh orang tua menjadi tumpuan si anak dalam melakukan sesuatu, namun apabila si orang tua menakut-nakuti si anak dalam melakukan sesuatu ini sama saja dengan tidak mendukung kegiatan si anak. Oleh karena itu, orang tua di tuntut untuk tidak berdusta atau menakut-nakuti si anak.

- Jangan bertentangan dengan naluri anak

Gharizah atau naluri adalah kekuatan terpendam dalam diri manusia yang mendorongnya untuk melakukan beberapa pekerjaan tanpa berlatih terlebih dahulu. Janganlah orang tua melarang anak bermain, atau membongkar dan memasang sesuatu. Jangan pula melanggar kebiasaan anak kalau tidak ingin mereka menggunakan jerit tangis sebagai senjatanya. Lebih baik gharizah itu diarahkan sedemikian rupa sehingga anak bisa meng