Kamis, 30 April 2009

Standarisasi pada sebuah lembaga pendidikan di Sumatera Utara

Pendidikan adalah sebuah hak yang kita dapat dari pemerintah. Dalam pasal 30, terdapat bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. Artinya seluruh warga Negara Indonesia dari sabang hingga merauke tidak peduli dia kaya atau miskin, tidak peduli dia anak pejabat atau tidak, tidak peduli dia tinggal dimana atau dari mana ia berasal, ia tetap mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan, pengajaran, dan pelatihan. Salah satu tujuan mengapa warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan adalah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia. Negara berkembang seperti Indonesia sangat memerlukan sebuah pendidikan yang bersifat universal, dimana hal ini akan mendukung pembangunan semua infrastruktur pendidikan yang ada di seluruh kawasan Indonesia. Setiap tahunnya, 20% dari anggaran perbelanjaan Negara di gunakan di dalam pembangunan pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Lembaga pendidikan di Indonesia dimulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah dasar (SMA), hingga ke jenjang yang lebih tinggi yakni perguruan tinggi atau Universitas. Di kawasan Asia Tenggara Indonesia berada pada level yang rendah di bidang pendidikan. Indonesia kalah jauh di bandingkan dengan Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan bahkan Vietnam. Alasan-alasan yang timbul akibat kemunduran pendidikan di Indonesia hanya ada sebuah masalah besar yang tidak pernah terselesaikan yakni masalah anggaran pendidikan. Kita sudah paham betul bahwa, pendidikan itu merupakan sebuah keutamaan bagi kita sebagai seorang manusia. Pendidikan adalah jalan kita untuk menghadapi apa artinya hidup.
Seperti kita ketahui pembangunan pendidikan di Indonesia tidaklah berkembang pesat, tidak ada pembangunan yang merata dalam dunia pendidikan. Adanya sebuah sistem diskriminasi antara sebuah provinsi terhadap provinsi lain yang mengakibatkan begitu banyak perbedaan, hal ini juga yang dapat membangkitkan sikap akan lebih menuju ke dalam sebuah kelompok. Tetapi hal ini juga tidak sedikipun menyurutkan semangat berjuang untuk melawan hidup melalui pendidikan yang tertanam dalam semua jiwa anak-anak Indonesia. Dengan jiwa semangat patriotisme, para generasi bangsa ingin membangun Negara ini yang telah jatuh karena begitu banyak masalah yang timbul baik dari dalam maupun dari luar negeri ini.
Pendidikan yang ada di Indonesia pun terbagi atas 3 wilayah, yakni wilayah I yang mencakup Pulau Sumatera dan sebagian provinsi di Pulau Jawa, kemudian wilayah II yang di mulai dari Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan dan Sulawesi, dan yang terakhir meliputi Maluku dan Papua yang termasuk dalam wilayah ke III. Di Sumatera sendiri ada beberapa universitas – universitas yang mempunyai nama sempat terdengar di seantero wilayah ASEAN dan bahkan hingga ke benua Asia dan Australia dan mulai merambah ke benua biru Eropa dan ke penjuru dunia. Mulai dari, Unsyiah, USU, Unsri, Unri dan masih banyak lagi
USU, universitas yang terletak di kota medan ini mempunyai berbagai macam program studi yang hamper semua program studinya memiliki predikat A maupun B. Sehingga Menurut data yang diperoleh pada bulan februari tahun 2008 kemarin menempatkan universitas nomor satu di Sumatera Utara ini pada 10 besar, peringkat ini di buat oleh sebuah majalah terkenal di asia, yakni majalah Globe Asia pada edisi bulan februari tahun kemarin. Hal ini, membuat saya bingung sebagai salah satu mahasiswa USU. USU yang mempunyai peringkat 10 besar di Indonesia tidak mempunyai keadaan fasilitas yang layak untuk sebuah universitas bertaraf nasional dan bahkan internasional. Saya tidak tahu bagaimana cara penilaian sebuah majalah Globe Asia dalam hal menunjuk USU mempunyai sebuah standar dan cocok untuk di letakkan di peringkat 10 besar Indonesia.
Mungkin pada saat itu Majalah Globe Asia merating Universitas Sumatera Utara dilakukan dengan berbagai cara ataupun melalui sudut pandang yang lain. Bisa saja, Majalah Globe Asia tersebut menilai dari minat masyarakat terhadap fakultas yang ada di USU, seperti Fakultas Kedokteran, Teknik, MIPA, Pertanian atau pun fakultas lainnya. Atau yang lebih meyakinkan lagi Majalah Globe Asia merating sebuah Fakultas di USU yang mempunyai uang kuliah yang lebih tinggi di antara fakultas lainnya, ketentuannya semakin besar uang yang dihasilkan oleh setiap fakultas semakin besar pula penetapan skornya. Tetapi, sebuah penilaiaan bukan di lihat dari per individu. Melainkan dari per kelompok atau dalam kasus ini haruslah di nilai dari kriteria sebuah Perguruan Tinggi secara nasional maupun internasional. Seharusnya, setiap Universitas di haruskan melakukan sebuah standarisasi yang di nilai dan dilakuakan setiap tahunnya oleh Badan Akreditasi Nasional melalui Departemen Pendidikan Nasional.
Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institute teknologi bandung adalah sederetan universitas terbaik yang di miliki bangsa ini, setiap bangunan yang ada di universitas ini tidak menyalahi aturan-aturan dalam arsitekur dan mempunyai sebuah kesan yang khas yang membedakan antara fakultas yang lain dan di lengkapi juga dengan fasilitas-fasilitas yang modern dan tentunya sangat up to date. Laboratorium di lengkapi dengan alat-alat yang baik, keadaan laboratorium yang sangat menyenangkan, ruangan kelas yang memadai membuat mahasiswa betah untuk belajar.
Tempat duduk yang di tata bertingkat sehingga tidak menimbulkan sebuah kesan yang di posisi depan lah orang yang dapat menguasai materi yang di berikan oleh sang dosen. Dan mungkin, ruangannya di lengkapi dengan berbagai macam fasilitas berupa infocus, proyektor yang dapat membantu proses belajar mengajar lebih menyenangkan. Sebuah keadaan yang sangat di impikan oleh semua mahasiswa untuk belajar.
Secara keseluruhan ada beberapa fakultas di USU yang tidak memiliki fasilitas yang layak untuk sebuah lembaga pendidikan, apalagi tingkat tertinggi. Fakultas MIPA, Teknik, Pertanian, dan Fakultas Sastra. Saya melihat gedung-gedung untuk belajar di fakultas ini tidak mempunyai sebuah standar yang layak untuk melalukan kegiatan belajar dan mengaja. Ruangan kelas yang jorok, jelek, tidak rapi, tidak ada yang namanya alat-alat teknologi seperti infocus, proyektor, layar, yang ada hanya sebuah papan tulis hitam dan white board yang kusam. Ruangan kelas pun tidak mempunyai sebuah jendela yang cocok untuk sebuah kelas, sesuai dengan hati lintang yang melihat ruangan kelasnya yang tidak layak untuk sebuah Sekolah Dasar, begitu juga dengan ruangan kelas saya di kampus yang tidak layak menjadi sebuah kelas di sebuah universitas yang bertaraf internasional dan bahkan pernah mendapat posisi 10 besar nasional. Saya pribadi yang merupakan mahasiswa Fakultas MIPA khususnya di jurusan FISIKA tidak mempunyai sebuah minat belajar sebagai seorang mahasiswa. Keadaan kampus yang terkesan tidak terurus, jorok, kuno, dan terkesan tidak di perdulikan oleh semua orang. Dan bahkan Ibu saya tidak percaya melihat kampus saya pada saat beliau mengantar saya ke kampus.
Laksana sebuah kampus yang tidak memenuhi standar pendidikan, kampus kami tak bisa dideskripsikan menjadi sebuah kampus yang sesuai dengan keinginan hati para calon mahasiswanya. Gedung yang baik, bercorak ilmu pengetahuan, lengkap dengan gaya arsitektur modern yang canggih dimana di setiap sudut dindingnya dilengkapi dengan sebuah peradaban teknologi modern yang dikontrol oleh sebuah sistem yang lengkap. Ruang kelas yang di lengkapi dengan berbagai macam perna-pernik tentang ilmu pengetahuan merupakan impian seorang manusia yang beranjak dari sekolah menengah umumnya ke pendidikan yang lebih tinggi.
Kampus kami ini tak di jaga karena tidak ada benda yang layak di curi, yang ada hanya bangku-bangku yang terbuat dari kayu yang telah berumur 10 tahun lebih dan 2 buah papan tulis hitam dan putih dan itupun telah kotor karena telah terkena percikan-percikan cat air sewaktu mencat kelas kami bertahun-tahun yang lalu. Satu-satunya penanda yang membuktikan bahwa gedung tersebut adalah gedung mahasiswa MIPA jurusan Fisika hanyalah sebuah papan pengumuman yang terletak tepat di depan ruang masuk atau lobby yang merupakan istilah yang sering di ucapkan oleh orang-orang yang tingkat ekonominya menengah ke atas. Sering terlihat pengumuman tentang informasi jurusan fisika ataupun terkadang di tempel lah sebuah kertas yang berisikan ‘dibuka pendaftaran bagi asisten lab fisika lanjutan’.
Jika dilihat dari jauh, keadaan kampus kami tidak ada bergaya arsitektur manapun. Jendela yang tidak pernah dikunci yang dapat dilalui oleh berbagai macam fauna yang hidup bersosialisasi dengan manusia, tapi buat apa dikunci karena tidak ada satupun barang berharga yang ada di gedung kampus kami. Kampus kami lebih layak bila dikatakan dengan rumah susun yang terletak di kawasan kumuh dimana-mana rumput ilalang tumbuh dengan bebas layaknya untaian-untaian rambut yang panjang yang tak teratur berwarna pudar dan diterpa angin sayup-sayup bergelombang. Jika memasuki ruangan kelas dan bahkan gedung jurusan FISIKA anda tidak akan merasakan sebuah hawa kampus melainkan sebuah perasaan kaget, tercengang, shock dan bahkan tidak percaya bahwa gedung yang anda masuki adalah sebuah gedung pendidikan.
Berbeda dengan keadaan kampus yang ada di fakultas kedokteran, psikologi, ekonomi, hokum, dan ilmu social dan politik. Terjadi sebuah keadaan yang sangat terkesan berbeda. Bagaikan langit dan bumi, jauh jarak yang memisahkan antara 2 benda tersebut, begitu juga dengan fakultas MIPA dengan fakultas kedokteran. Terjadi fenomena yang sangat signifikan, dimana fasilitas yang ada di fakultas tersebut jauh lebih lengkap dan modern dari pada fasilitas yang ada di fakultas kedokteran, psikologi, ekonomi, hukum dan FISIP.
Kawasan ke-5 fakultas ini menjunjung tinggi nilai keindahan dan arsitektur. Jajaran pohon bersemayam menjatuhkan daun-daun kuning di atas kap-kap mobil mahal yang berbaris-baris membentuk sebuah barisan. Di sana, gedung-gedung memiliki jendela-jendela yang lebar, tinggi, dan bersih. Di dalamnya di lengkapi dengan semua benda yang di butuhkan untuk memulai prose belajar dan mengajar yang sangat menyenangkan. Pada fakultas kedokteran setiap bangunan di lengkapi dengan sebuah air conditioner yang baik, sehingga membuat keadaan yang tenteram dan membuat hati mahasiswa tenang dan damai untuk mendengar pengajaran dari sang dosen, tidak peduli dengan hiruk pikuk keadaan di luar kelas yang apabila telah selesai belajar akan timbul suasana yang sama seperti pasar.
Universitas Sumatera Utara sangatlah makmur tetapi universitas ini seperti mengasingkan diri dari semua universitas yang ada di tanah Sumatera. Pada abad ke 19 USU sangat terkenal hingga ke daratan eropa. Banyak sekali dosen-dosen dari luar negeri yang mau mengajar. Namun, pada akhir abad ke 19 terjadi sebuah kebudayaan yang mulai hidup dalam kepribadian sosiologi yang sifatnya mencerminkan sebuah perbedaan yang sangat mencolok. Memang secara langsung tidak terjadi di lingkungan universitas, tapi itu semua tampak pada semua fasilitas yang di berikan pihak biro rektor terhadap fakultas-fakultas yang ada di Universitas.
Kesan yang mendalam tertinggal di dalam lubuk hati kami para mahasiswa baru angkatan 2008 yang pada saat hari pertama masuk ke kampus yakni bangga menjadi seorang Mahasiswa sains apalagi di bidang FISIKA. Sewaktu di sekolah menengah kami tercengang dan bahkan terkagum akan kata-kata seorang jenius berkebangsaan inggris, Sir Issac Newton yang mengatakan ‘….and to every action there is always an equal and opposite or contrary, reaction….’ Yang setelah aku pandai berbahasa inggris mempunyai arti sebuah kalimat yang sangat sesuai dalam menjalani hidup- ‘dimana ada aksi pasti ada reaksi yang arahnya berlawanan’. Namun, itu semua sirna ketika kami menuju ke lokasi gedung yang akan di jadikan tempat beraktivitas, tempat bercengkrama dengan teman-teman, tempat kami untuk menemukan sebuah ide-ide baru.
Pada saat yang senggang kami duduk dan berangan-angan sejenak sembari mengeluh sesuatu di dalam otak kami, kami sering merasa malu dan bahkan merasa ada sebuah ketidakadilan terjadi kepada kami. Kami bertanya-tanya dalam hati, mengapa keadaan kampus kami tak seperti kampus-kampus lain yang ada fakultas-fakultas lain ataupun kampus-kampus yang ada di pulau jawa ataupun yang mempunyai keadaan yang lebih membuat kami merasa senang dan merasa bahagia di lingkungan yang akademis. Namun, jika kita ingat kembali film ‘laskar pelangi’ yang keadaan lingkungan akademisnya ratusan dan bahkan ribuan kali lebih bobrok, dengan keadaan kelas yang bila jika di senggol sedikit saja oleh kambing yang ingin kawin bisa rubuh berantakan, tetapi 10 orang murid sekolah muhammadiyah tersebut tetap senang dalam mengahadapi situasi seperti itu, tetap gembira, tetap belajar dengan semangat tanpa menghiraukan keadaan yang menerpa mereka dan ketika bung karno yang di buang dan di asingkan ke sebuah daerah yang jauh ntah di mana, di masukkan ke penjara yang kelam dan gelap dengan kesan yang menakutkan dan mistis tetapi beliau juga tetap belajar dengan semangat yang berkobar-kobar. Hal itu juga lah yang menampik keluhan, yang melelehkan keluhan hati kami, yang akhirnya merelakan hati kami untuk belajar dengan penuh semangat dan mencintai almamater kami.

0 comments: